Tiap negara memiliki sistemnya sendiri dalam mendidik dan mencerdaskan putra-putri bangsanya.

Tak heran berbagai kebijakan yang mempengaruhi sistem pendidikan menggambarkan kondisi dan tingkat keterbukaan akan pendidikan bagi masyarakat di suatu negara. 

Beberapa negara menerapkan sistem pendidikan dengan efisiensi tinggi supaya sumber daya manusia di negaranya berdaya jual di dunia internasional. Semakin baik sumberdaya manusianya tingkat pendidikan asal negaranya akan semakin diakui oleh dunia.

Jerman khususnya dengan penggolongan, kriteria, hingga kebiasaan masyarakatnya dalam memilih tempat untuk melanjutkan pendidikan yang berbeda bahkan bertolak belakang dengan kebiasaan kita di Indonesia.

Penggolongan Jenjang Pendidikan di Jerman

Penggolongan Jenjang Pendidikan di Jerman

Kita mulai dari yang paling dasar, dimana awal mula pendidikan anak-nakan Jerman dimulai, hingga melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, berikut rinciannya:

Pendidikan usia dini/kindergarten

Lebih familiar dengan sebutan taman kanak-kanan atau TK di Indonesia. Sistemnya pun tak jauh berbeda, dimana kindergarten berisikan anak-anak usia 1-6 tahun, tak semuanya berisi pembelajaran beberapa hanya untuk tempat bermain atau playground.

Biasanya orangtua akan menitipkan anaknya disini selama bekerja, bahkan ada lembaga yang menawarkan jasa agar anak-anak tersebut dapat bermalam untuk dijemput keesokan harinya.

Kegiatan di kindergarten biasanya berlangsung dalam kurun waktu 7 jam perhari, sudah termasuk istirahat dan makan siang.

Anak-anak akan belajar membaca buku dengan gambar, bernyanyi, berkunjung ke tempat-tempat tertentu.

Akhir daripada pendidikan kindergarten, akan diputuskan apakah sang anak akan melanjutkan ke tingkat pendidikan selanjutnya melalui diskusi antara para tenaga pendidik dan orang tua mengenai perkembangan dari si anak sendiri.

Khusus bagi anak-anak yang telah mencukupi usia masuk sekolah dasar, namun dinilai belum cukup perkembangannya atau dalam hal ini anak tersebut memiliki kebutuhan khusus.

Di Jerman mereka akan dibimbing dengan mengikuti sebuah sekolah khusus dimana dikenal dengan Vorlkassen atau Schulkindergarten.

Sekolah dasar (Grundschule)

Tidak jauh berbeda dengan Indonesia, pendidikan sekolah dasar di Jerman dimulai sejak anak berusia 6 tahun.

Sekolah tingkat dasar ini akan ditempuh oleh siswa hingga menginjak kelas 4, sehingga akan selesai saat siswa menginjak usia 10 tahun.

Terdapat dua jenis sekolah dasar di Jerman, sekolah dasar dengan sistem lima hari dan sekolah dasar dengan sistem enam hari.

Sekolah lima hari memiliki total waktu pengajaran 188 hari pertahunnya. Sementara sekolah enam hari memiliki waktu pengajaran 208 hari dalam satu tahun.

Untuk siswa yang memilih sekolah sistem enam hari, maka akan bersekolah di hari Sabtu sebanyak dua kali dalam setiap bulannya.

Mata pelajaran sekolah yang kemudian ditekuni pun tak berbeda jauh dengan Indonesia, seperti Bahasa Jerman, Bahasa Asing, Kesenian, Kerajinan dari tangan, Berolahraga, kesenian musik, hingga pelajaran Agama.

Jangan khawatir jika seorang siswa memiliki orangtua yang sering dipindahtugaskan atau sering berpindah-pindah domisili.

 Jerman telah menyediakan sekolah Schule fur die Kinder beruflich Reisender bagi siswa yang merupakan anak dari seorang traveler professional dan Schule fur Circus Kinder diperuntukkan bagi siswa yang orangtuanya berprofesi di bidang pentas kesenian yang selalu berpindah-pindah.

Setelah menyelesaikan kelas 4 para siswa tidak perlu melewati ujian seperti ujian sekolah yang diterapkan di Indonesia, tidak juga diterbitkan sejenis sertifikat seperti ijazah di Indonesia.

Namun ada pula yang memilih menerbitkannya seperti provinsi Baden-Wurttemberg dan Rheinland-Pfalz.

Lalu bagaimana penilaian dilakukan?. Penilaian atas penguasaan siswa atas pembelajaran akan mulai diberikan pada kelas 2.

Nilai-nilai tersebut tertera pada rapor yang disebut Zeugnis yang berisikan skala nilai berupa:

  • 1 artinya sangat memuaskan
  • 2 artinya memuaskan
  • 3 artinya cukup
  • 4 artinya memadai
  • 5 artinya buruk ,dan
  • 6 artinya sangat buruk

Semakin besar angka yang didapat, semakin buruk pula penilaiannya.

Berbeda dengan Indonesia yang mengukur skala nilai dengan semakin besar maka akan semakin baik. Persamaannya, apabila tidak tercapai tujuan nilai, siswa akan mengulang.

Sekolah Menengah

Jerman menggolongkan sekolah menengah menjadi dua bagian, yakni Sekundarstufe I yang setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia dan diperuntukkan bagi siswa usia 10 hingga 16 tahun. 

Sementara jenis yang kedua yakni Sekundarstufe II atau setingkat dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indonesia dan diperuntukkan bagi siswa usia 16 hingga 18 tahun dengan sebelumnya telah menyelesaikan Sekundarstufe I.

Dalam visi dan misinya sekolah menengah di Jerman bertujuan untuk mengikutsertakan murid dalam 3 bidang penting yakni intelektual, jasman dan emosional.

Mengajarkan kemandirian, pembuatan keputusan, juga tanggungjawab, sosial dan politik.

Sekolah menengah juga akan membantu siswa meraih tujuan utama dalam pendidikan mereka serta tak lupa memberi dukungan dalam rangka meningkatkan pengetahuan.

Tipe-tipe Sekolah Menengah di Jerman

Tipe-tipe sekolah Menengah di Jerman

Gymnasium

Kelas ini dipersiapkan bagi siswa kelas 5 hingga 13 yang akan melanjutkan studi ke universitas.

Tiap sekolah memiliki kurikulum tersendiri, namun mata pelajaran yang ditawarkan yakni Bahasa Jerman, matematika, computer, fisika, biologi, kimia, geografi, seni, sejarah dan sebagainya.

Pada akhir pendidikan akan diadakan semacam ujian kompetensi atau abitur untuk mendapatkan ijazah guna mendaftar di universitas.

Hauptschule

Tidak memiliki kurikulum setinggi gymnasium dengan sistem pengajarannya yang bersifat dasar.

Hauptschule menitikberatkan pada sekolah kejuruan yang mempersiapkan siswa kelas 5 hingga 20 untuk mengikuti magang selain belajar di kelas.

Di akhir tahun sekolah, siswa akan mendapatkan sertifikat kelulusan berupa predikat yaitu Hauptschulabschluss.

Realschule

System yang lebih luas dan intensif, siswa yang mngikuti Realschule akan berkesampatan untuk melanjutkan sekolah kejuruan yang lebih tinggi.

Untuk mendapatkan kesempatan magang di perusahaan dan dapat pula mengikuti matrikulasi di gymnasium untuk mendapatkan abitur.

Sebagaimana skala penilaian di tingkat sebelumnya, pada sekolah menengah juga diterapkan penilaian skala 1-6 dimana semakin besar nilai maka semakin rendah performanya dalam pelajaran dan nilai satu adalah yang terbaik.

Perbedaan Sistem Pendidikan di Jerman dan Indonesia

Perbedaan Sistem Pendidikan di Jerman dan Indonesia

Jenjang dan waktu menempuh pendidikan

Sekolah dasar di Indonesia ditempuh dalam waktu 6 tahun pembelajaran.

Sementara sistem pendidikan di Jerman hanya 4 tahun. Jerman tidak menerapkan ujian nasional atau ujian sekolah seperti Indonesia, seperti yang disampaikan diatas Jerman hanya menerapkan nilai rapor sebagai tolak ukur penilaian siswa.

Jerman memiliki 3 macam sekolah menengah, yakni hauptschule, realschule, dan gymnasium dengan tujuan dan alur yang berbeda bagi para peserta atau siswa di dalamnya. 

Sebagaimana disampaikan di atas sistem pendidikan di Jerman Hauptschule diperuntukkan bagi siswa yang ingin memiliki kesempatan magang di sebuah perusahaan, Gymnasium bagi siswa yang berkeinginan melanjutkan studi ke universitas.

Realschule dengan jangkauan yang lebih luas mungkinkan siswa untuk mengambil kedua kesempatan untuk berkuliah atau magang di perusahaan.

Sementara Indonesia hanya memiliki dua jenis yakni Sekolah Menengah Atas (SMA) yang siswanya dijuruskan langsung menuju universitas.

Dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang siswanya diarahkan untuk memiliki keahlian khusus agar siap untuk bekerja.

Biaya pendidikan

Di Indonesia sekolah negeri tidak lagi dipungut biaya karena telah diberikan subsidi pendidikan oleh pemerintah.

Dan untuk jenjang universitas mahasiswanya masih harus membayar uang pangkal, atau UKT tiap semesternya.

Berbanding terbalik dengan sistem pendidikan di Jerman. Karena di negara Jerman sekolah dasar hingga sekolah menengah justru tidak digratiskan.

Orangtua harus membayar sendiri kebutuhan pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah anaknya.

Namun, di Jerman hampir semua universitas dan perguruan tinggi tidak dipungut biaya, kecuali di dua negara bagian yakni Bayern dan Baden Wurttemberg.

Kuliah gratis di Jerman ini bahkan bukan hanya untuk mahasiswa lokal tapi juga berlaku bagi mahasiswa dari luar negeri.

Sekolah unggulan

Banyak sekali penilaian muncul dari tiap sekolah yang diberikan orangtua murid, mulai dari fasilitas, kinerja tenaga pendidik hingga persoalan pergaulan.

Orang Tua berbondong mendaftarkan anaknya ke sekolah unggulan demi memastikan putra-putrinya mendapatkan pendidikan terbaik

Sebenarnya hal ini sangat baik bagi perkembangan individu siswa, namun pemerataan pendidikan secara nasional menjadi terhambat.

Banyak yang menginginkan sekolah di luar kota, mengimpikan berkuliah di ibukota dengan alasan lebih bagus sistemnya sehingga daerah kecil semakin tertinggal.

Berbeda dengan sistem pendidikan di Jerman, asumsi yang ditanamkan oleh warga Jerman adalah jika ingin merasakan pendidikan dengan kualitas terbaik maka datangi daerah-daerah kecil, dengan begitu kualitas pendidikan akan merata dan tidak ada daerah yang tertinggal.

Jika mendapatkan juara olimpiade sains adalah hal yang membanggakan bagi siswa dan orangtua di Indonesia, hal tersebut sangat biasa bagi warga Jerman

Terbalik keadaannya, jika nilai PISA (Programme for International Student Assessment) turun maka akan sangat bermasalah.

PISA sendiri adalah sebuah hasil penelitian yang memberikan persentase berapa tingkat kemampuan mengenai suatu keilmuan di suatu negara. Indonesia sendiri menduduki posisi 71 dari 79 negara dengan skor rata-rata 396 untuk kemampuan sains sebagian besar siswa Indonesia.

Tujuan utama Pendidikan

Di Indonesia sejak memasuki kelas 1 sekolah dasar, siswa akan diajari mengenai moral, etika, agama, hingga ideology kebangsaan, berbeda dengan Jerman yang berfokus pada kemandirian individu, menuntut siswa untuk kreatif, logis, dan bertanggungjawab.

Anak-anak Indonesia sejak masuk hingga keluar kelas akan selalu dipantau oleh para guru, tidak dengan anak-anak di Jerman yang tidak selalu didampingi guru dan diberikan kebebasan untuk bersosialisasi.

Sebagaimana penjelasan PISA diatas, tujuan utama pendidikan di Jerman adalah memberikan dampak besar pada keberlangsungan pendidikan di negara tersebut. 

Sehingga tanggung jawab dari kebijakan pendidikan buka lagi bergantung pada peraturan yang digagas oleh masing-masing negara bagian, namun juga pada person tiap pelajarnya memberikan kontribusi.

Pengakuan dunia internasional terhadap pendidikan di Jerman membuatmu tidak akan menemukan siswa pintar hanya berasal dari suatu sekolah atau daerah tertentu saja, ketimpangan pendidikan juga jarang ditemukan di Jerman.

Program wajib belajar

Indonesia dan Jerman sama-sama menerapkan wajib belajar selama 9 tahun.

Berarti wajib belajar tersebut akan selesai di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Setelahnya, siswa Indonesia umumnya akan diarahkan ke SMA atau SMK untuk lebih lanjut mempelajari teori dan praktek.

Sementara para siswa di Jerman lebih memilih untuk menjalani kesempatan untuk magang selama 3 tahun di perusahan Jerman.

Sehingga setelah berusia 15 tahun, bukan hanya teori dari kelas yang mereka dapat, tapi juga pengalaman kerja bahkan gaji yang telah ditetapkan bagi pekerja magang.

Sekianlah pembahasan mengenai sistem pendidikan di Jerman hingga perbedaannya dengan sistem pendidikan di Indonesia.

Dan apabila ingin melanjutkan kuliah di Jerman maka ada baiknya mempersiapkan dari sekarang dengan mengikuti kelas kursus bahasa Jerman di Eduversity, untuk informasi lebih lanjut bisa isi form diatas ini.